Aris on September 3rd, 2010

Lutfiel Hakim, awalnya adalah seorang instruktur bahasa Inggris dengan gaji per bulan Rp. 800.000. Dengan gaji segitu tak ada yang tersisa buatnya di akhir bulan, karena setelah dipotong transportasi dan biaya hidup ia malah harus nombok Rp. 200 ribuan setiap bulannya.

Itu cerita sebelum ia mengundurkan diri tahun 2007 dan bergabung dengan Komunitas TDA yang ditemukannya secara tak sengaja saat menjelajah dunia maya.

Proses perpindahan kuadrannya menjadi semakin manis setelah mendapat bantuan seorang teman TDA yang mengajaknya bekerja sama memasarkan jasa kursus privat bahasa Inggris melalui internet.

Kini, omzet perbulannya sudah tembus angka Rp. 25 juta, berkali-kali lipat dari gaji yang didapat sebelumnya.

“TDA mendukung saya 100% dalam banyak hal, termasuk pengembangan diri dan kewirausahaan”, akunya kepada Dalyanta Sembiring, seperti tertulis di majalah Reader’s Digest edisi September 2010.

Tanggal 17 Agustus jam 6 pagi saya berada di kamar hotel Madani, Medan menyaksikan Trans TV yang menayangkan acara Makna Kemerdekaan. Stasiun ini mengangkat tema keadilan, kemakmuran dan kedaulatan dalam mengisi kemerdekaan.

Untuk segmen kedaulatan, Komunitas TDA dipilih karena dinilai termasuk yang gigih memperjuangkan kedaulatan ekonomi, khususnya dalam mengembangkan kewirausahaan di Indonesia.

Saya pun menunggu tayangan itu dengan berdebar-debar, karena saya termasuk yang menjadi nara sumbernya.

Satu hal yang menarik perhatian saya adalah seorang nara sumber wanita berjilbab yang tinggal di Depok bernama Molina.

Ia bercerita tentang bagaimana ia berhenti bekerja dengan tantangan yang berat dari keluarga dan memulai usaha batik online.

Berulang kali ia bertutur bahwa semua pencapaiannya ini tak lepas dari peran Komunitas TDA wilayah Depok di mana ia sekarang bergabung.

Saya baru mengenal member ini dan terus terang saya terpaku dan speechless mendengar pernyataannya bahwa TDA telah sedemikian rupa membantunya berubah menjadi seorang pengusaha.

Lutfiel Hakim, Molina dan banyak lagi member yang tidak bersentuhan langsung dengan saya. Tapi, manfaat dari TDA sudah mereka rasakan.

Subhanallah.

Apakah ini yang namanya butterfly effect dari TDA?

Menurut teorinya, butterfly effect itu terjadi karena chaos theory yang terjadi tanpa sengaja. Menurut saya, butterfly effect TDA terjadi karena sengaja, salah satunya adalah dengan adanya kelompok mastermind yang gencar dikampanyekan di TDA.

Dua orang member tadi aktif bergabung di mastermind TDA. Mastermind TDA adalah salah satu bentuk dari upaya sengaja dalam rangka menebar rahmat TDA seluas-luasnya.

Mastermind adalah butterfly effect TDA yang berdampak luar biasa. Saat ini ada sekitar 100-an kelompok mastermind TDA. Bayangkan, 5 sampai 10 tahun ke depan, apa yang terjadi di balik fenomena ini.

Filed under: Komunitas TDA

Aris on September 3rd, 2010

Tanpa alasan, pagi ini saya memutuskan untuk tidak ke kantor. Saya ingin di rumah saja, tidur-tiduran, doing nothing.

Bukankah para pakar kreativitas menyarankan agar kita sebagai pebisnis tidak terjebak dengan rutinitas? Rutinitas, menurut mereka akan memandulkan kreativitas, imajinasi dan inspirasi.

Saya pun menghabiskan seharian di rumah dengan membukai halaman-halaman majalah SWA dan Reader’s Digest terbaru (ada wawancara saya lho di dalamnya!).

Udara cerah, langit terang dan agak panas. Saya pun mendinginkan diri di dalam kamar.

Jam setengah tiga sore, tiba-tiba langit menggelap tanda akan hujan.

Betul saja, tak lama kemudian hujan deras mengguyur. Sangat deras. Dahan pohon dan tanaman di sekitar rumah bergoyang cukup kencang.

Alhamdulillah.

Saya suka hujan.

Selama ini hujan sering datang saat saya di kantor atau di perjalanan. Saya tak sempat menikmatinya.

Saat di rumah, setiap hujan turun saya selalu menikmatinya dengan ritual duduk di kursi malas di teras belakang ditemani sebuah buku dan segelas kopi panas. Karena hari ini saya berpuasa, jadi cukup dinikmati dengan memandanginya saja sambil melaungkan khayal.

Subhanallah. Ini adalah sebuah anugerah kemewahan dari Allah yang sering luput dari perhatian kita.

Bagi saya, hujan itu indah, romantis (gara-gara dulu sering nonton film India :) ), dan juga sentimentil.

Saya sering berkhayal, punya rumah kayu di tengah sawah yang begitu indah dan romantis saat disiram hujan.

Barang kali juga karena saya dulu pernah tinggal di kampung yang dikelilingi sawah. Hujan dan suasana kampung begitu akrab dengan masa kecil saya.

Andai saya ini seorang penyair, pastilah banyak puisi lahir saat hujan seperti ini.

Hujan….

NB: maaf ini hanya tulisan iseng tanpa makna, karena saya memang lagi kurang kerjaan :)

Filed under: Life

Aris on September 3rd, 2010

Sebuah pertanyaan di Twitter diajukan oleh Pak Komaruddin Hidayat (rektor UIN) dan menggelitik saya untuk menulis di blog. Jadi dapat ide :)

Begini statusnya:

Komar_hidayat: Org Jawa mudik menjelang lebaran. Smtr Bugis ato Minang pulang kampung setelah lebaran. Apa iya?”

Jawaban saya:

Iya.

Karena, orang Minang kebanyakan berdagang ritel di pasar dan masih berjualan saat malam takbiran :) .

Puncak ramainya pembeli adalah paska pembagian THR sampai malam takbiran.

Sebenarnya, secara umum orang Minang termasuk jarang mudik lebaran. Alasannya adalah karena ekonomi. Mereka yang ekonominya masih “struggle” jarang sekali mudik, bahkan bertahun-tahun. Tidak mudik 5 sampai 10 tahun adalah biasa. Mereka hanya mengirim uang saja ke kampung.

Lho, bukannya saat lebaran di Sumbar itu macet di mana-mana dengan kendaraan dari Jakarta, Medan dan Riau? Ya, yang sering mudik adalah mereka yang ekonominya sudah mapan.

Mereka yang ekonominya masih di bawah bahkan “dilarang” oleh orang tuanya untuk mudik. Lebih baik uangnya disimpan saja untuk diputar membesarkan usaha dagang dari pada dihambur-hamburkan saat mudik. Kalau pun “terpaksa” mudik, biasanya karena ada urusan penting, seperti ada hajat atau ada yang sakit dan meninggal.

Mereka baru “diijinkan” mudik setelah ekonominya stabil. Tanda ekonominya sudah stabil adalah dengan memiliki toko, tidak ngontrak lagi. Rumah dan mobil adalah prioritas berikutnya setelah toko atau tempat usaha.

Ada pepatah Minang mengatakan “di mana bumi di pijak, di situ langit dijunjung”. Artinya, orang Minang menganggap bahwa di mana pun merantau, ia menganggap daerah itu sebagai kampung halaman keduanya. Mereka beradaptasi dan berasimilasi dengan penduduk dan budaya setempat. Bahkan banyak yang menikah dengan orang setempat. Jadi, mereka merasa sudah memiliki kampung sendiri.

Satu hal lagi yang membuat orang Minang malas mudik adalah karena di kampung sudah tidak ada keluarga lagi lantaran sebagian besar merantau. Rumah-rumah banyak yang kosong. Pulang kampung malah membuat mereka sedih.

Sebagian besar keluarga mereka ada di rantau. Jadi, silaturahimnya tidak di kampung lagi, melainkan di rantau. Keluarga besar saya yang tinggal di kampung mungkin hanya 10% saja. Mayoritas ada di Jakarta dan Seremban (Malaysia).

Pulang mudik buat keluarga besar saya bukan lagi untuk bersilaturahim dengan keluarga, tapi sekedar melepas rindu dengan kampung halaman. Semua keluarga sampai kakek nenek ada di rantau. Jadi, buat apa mudik?

Tulisan ini berdasarkan pengamatan pribadi saya. Silakan dikoreksi jika salah.

Filed under: Uncategorized

Aris on September 3rd, 2010

Seorang teman saya tanya bagaimana dampak penggunaan BlackBerry untuknya. Apakah ia makin produktif atau tidak?

Ia mengaku menjadi lebih produktif.

Saya tanya lagi, lebih banyak mana waktu penggunaan BBnya apakah untuk kegiatan produktif atau hanya “main-main”?

Dengan tersipu, ia pun mengakui bahwa lebih banyak main-mainnya ketimbang yang produktif.

Itulah masalahnya. BB bak pisau bermata dua. Kalau kita larut menggunakannya untuk kegiatan yang tidak produktif, ia menjadi gangguan atau distraction yang lama-lama bisa menjadi pisau yang membahayakan kita.

Kembali saya menggunakan argumen dari Leo Babauta (zenhabits.net) yang menganjurkan untuk tidak menjadi “konsumen” di dunia maya ini. Kita harus menjadi “produsen”.

Gunakan gadget itu untuk “menjual” sesuatu: ide-ide, pengaruh, bisnis. Jadikan BB sebagai alat untuk “menggerakkan” sesuatu. Saya
menggerakkan Komunitas TDA dari BB via Facebook, milis atau Twitter.

Saya bisa lebih dekat dengan pelanggan dan vendor dengan perantara BB. Informasi dan koordinasi jadi lebih cepat dan tidak bias. Pengambilan keputusan juga lebih akurat.

BB bak pisau bermata dua. Ia bisa digunakan untuk memotong saat memasak di dapur atau sebaliknya, memotong jari si penggunanya.

Di kasus saya, BB sudah mulai mengubah perilaku menjadi asosial, bukan karena manfaat produktifnya tadi, tapi karena distractionnya yang secara konstan membuat saya mengakses informasi-informasi yang tidak lagi relevan dengan tujuan saya menggunakannya. Sampai-sampai Vino pun (1,5 tahun) “protes” dengan memukul-mukul BB di tangan saya dengan mimik tidak suka.

Distraction-nya itu yang mau saya “buang”, bukan BBnya.

Filed under: Uncategorized

Aris on September 3rd, 2010

Ternyata bisa juga kok “pisah ranjang” dengan BlackBerry.

Inilah kegiatan saya ber-diet BB sejak pagi ini.

Pagi-pagi, seperti biasa saya mengantarkan Vito sekolah. Selesai dia saya drop, saya langsung ke Citos menemui seorang teman TDA yang ingin bertemu.

Kami duduk di deretan bangku di depan Foodmart yang menurut saya tidak perlu memesan makanan atau minuman.

HP SonyEricsson jadul saya kantongi, sementara BB saya matikan dan diletakkan di dalam tas. Biasanya BB selalu saya pegang dan lirik sekali-sekali dalam setiap pertemuan seperti ini.

Done. Berhasil.

Selesai dari sana, saya menjemput Vito dan duduk di sampingnya di kursi tengah. Biasanya saya duduk di depan di samping supir sambil menggenggam BB dan selalu mengintipnya setiap saat.

Vito tampak heran tapi senang dengan perubahan perilaku Papanya ini. Ia dengan antusias bercerita tentang buku bergambar Elmo yang baru diperolehnya dari sekolah.

Di tengah perjalanan, saya teringat bahwa Vito biasanya makan siang di mobil. Hari ini ia dibekali spaghetti kesukaannya. Saya tawari ia untuk saya suapi. Tentu saja ia senang sekali dan ini sebuah kejutan buatnya. Biasanya mbaknya yang melakukan ini.

Apa yang saya rasakan dengan perubahan “gaya hidup” nir-BB ini? Saya lebih merasa connected dengan orang-orang yang “nyata” di dekat saya, bukan orang-orang yang jauh di dunia maya sana.

Saya masih tetap membuka BB, tapi hanya untuk mengecek apakah ada email penting dari klien yang perlu dijawab segera. Selebihnya, BB saya matikan dan saya pakai SonyEricsson bekas properti kantor.

Saya tidak ingin ekstrim terputus sama sekali atau disconnected, tapi yang saya lakukan adalah less-connected. Supaya bisa more-connected dengan di mana saya berada saat itu dengan orang-orang di dekat saya.

Oke sampai di sini cerita saya. Saya mau pulang dulu, karena sore ini saya mau more-connected dengan teman-teman founder TDA yang akan berkumpul berbuka puasa bersama sore ini di Tebet.

Filed under: Life

Aris on August 3rd, 2010

Beberapa hari lalu, sebuat twit me-mention nama saya dari akun seseorang bernama @TomySaleh.

Ia me-reply twit dari @Lapau_IJP yang men-twit tentang Jack Lord, seorang lulusan sarjana cum laude yang berprofesi sebagai tukang sapu di Pekanbaru.

Akun @Lapau_IJP sendiri adalah milik mantan pengamat politik yang sekarang jadi politisi, Indra Jaya Piliang*.

@TomySaleh menyarankan untuk meminta bantuan kepada saya sebagai pendiri Komunitas TDA untuk membantu memberi motivasi kepada Jack Lord.

Permintaan itu saya iyakan. Saya berpikir, bagaimana caranya?

Saya teringat, ada beberapa member TDA di Pekanbaru. Saya ingin mengetes kekuatan jaringan TDA yang “katanya” dahsyat itu.

Saya menelpon Marah Adil dan Ari, dua orang member TDA di Pekanbaru yang sempat menginap di rumah saya ketika Pesta Wirausaha 2010 atau Milad 4 TDA lalu.

Saya ceritakan masalahnya dan mereka menyanggupi untuk membantu. Kebetulan mereka menjadi EO seminar Marketing Revolutionnya Pak Tung Desem Waringin. Mereka akan memberikan tiket seminar gratis kepada Jack Lord.

Alhamdulillah, kemarin Jack Lord sudah hadir di seminar tersebut. Saya tidak tahu bagaimana dampaknya terhadap dia.

Pak Tung saya kontak lewat BlackBerrynya agar memberi motivasi khusus kepada Jack Lord. Hal ini kemudian dilakukannya dengan memutar video tentang seorang mantan tukang sapu yang sekarang sudah memiliki mobil Jaguar.

Saya berkata kepada Marah Adil bahwa kita hanya memberinya “kunci” untuk membuka pintu perubahan kehidupannya. Dia sendiri yang harus menggunakan kunci itu, membuka pintu dan menapak ke dalam ruang kehidupan baru itu.

Ini adalah langkah awal bagi perubahan kehidupannya. Tiket gratis kemarin hanya semacam “pertanda” (meminjam istilah Paulo Coelho) dari Tuhan untuk mengubah nasibnya.

Terima kasih atas kerja sama semua pihak yang memungkinkan ini terjadi. Ini adalah bukti dari kekuatan jaringan TDA dan pertemanan di Twitter. Luar biasa.

Banyak hal “besar” bisa kita lakukan dengan memanfaatkan jaringan dan social media ini.

Cerita ini hanya contoh kecil dan sederhana yang terjadi secara “kebetulan” saja..

*NB: Dari Twitter ini juga saya bisa berkenalan dan chatting via BBM dengan Uda Indra Jaya Piliang. Nama Piliang itu adalah nama suku di Minang dan kebetulan sama sukunya dengan saya. Saya bertemu saudara sesuku di Twitter.

Filed under: Uncategorized

Aris on August 3rd, 2010

Apakah burger McDonald’s lebih enak daripada Burger King?

Apakah jam tangan Rolex lebih baik ketimpang puluhan merek jam tangan lainnya?

Apakah Starbuck’s membuat kopi lebih enak dibandingkan Bengawan Solo?

Apakah RM Sederhana masakannya lebih enak daripada Natrabu?

Apakah OS Windows lebih baik daripada Macintosh?

Jawabannya relatif.

Mungkin ya, mungkin tidak.

Tapi, persepsi konsumen merasa lebih enak Starbucks daripada Bengawan Solo.

Seiring dengan waktu, sebagian besar brand dalam satu kategori cenderung menjadi sangat mirip. Perbedaan yang diperhatikan oleh konsumen diciptakan oleh brand-brand sendiri.

Menurut Al Ries, semakin besar pangsa pasarnya, semakin dominan brand-nya, semakin besar pula efek yang diberikan brand itu terhadap persepsi konsumen mengenai realitas.

Kuncinya adalah permainan persepsi melalui penguasaan pasar.

Filed under: Uncategorized

Aris on August 3rd, 2010

browse-re.jpgJudul lagu berirama dangdut disko itu agak aneh : Keong Racun. Namun lagu aneh yang dinyanyikan dua wanita muda dari kota Bandung ini sudah seminggu terakhir mengharu biru jagat twitter global. Video klip-nya yang amatiran di YouTube sudah ditonton oleh lebih dari 1,5 juta kali (lagunya sendiri asyik; waktu mendengarnya di Youtube, saya cuman bisa senyam-senyum sendirian).

Mendadak sosok dua perempuan muda yang culun itu melambung. Hanya melalui medium twitter dan youtube, dua anak muda yang tadinya bukan siapa-siapa sekejap menjadi “special people”. Para ahli komunikasi menyebut fenomena ini sebagai “social media effect”. Orang pemasaran menyebutnya “viral marketing”.

Viral marketing mungkin dapat diartikan sebagai proses pemasaran yang menjalar dalam waktu sekejap. Dan proses ini menjadi sangat mungkin terjadi lantaran merebaknya beragam social media site, semacam Youtube, Twitter, Facebook ataupun Kaskus. (more…)

Aris on August 3rd, 2010

Di bagian akhir buku Delivering Happiness, Tony Hsieh menyajikan 3 Framework of Happiness. Salah satunya yang saya suka (karena simple) adalah model 3 jenis kebahagiaan, yaitu: Pleasure, Passion, Purpose.

1. Pleasure
Ini yang biasanya dikejar sebagian besar orang. Kesenangan.
Masalahnya, tipe pleasure ini selalu membuat “ketagihan” dan “ketergantungan”. Ia selalu meminta: more, more and more.

Riset membuktikan bahwa tipe kebahagiaan seperti ini tidak berlangsung lama. Saat punya mobil baru, senangnya bukan main. Tapi itu tidak berlangsung lama. Apalagi setelah mobilnya terserempet Bajaj, misalnya.

Jenis kebahagiaan seperti ini juga rentan terhadap perbandingan. Begitu tetangga beli mobil baru yang lebih keren, “rasa bahagia” terhadap mobil milik sendiri secara ajaib bisa drop.

2. Passion
Ini adalah kondisi “flow”, saat “peak performance” dan “peak engagement” kita bertemu. Kesibukan yang mengasyikkan. Seperti artis atau seniman yang begitu masyuk dengan dunianya. Seperti musisi jazz yang “flow” saat berimprovisasi. Seperti atlit profesional yang begitu larut dengan permainannya.

Riset menyimpulkan bahwa jenis kebahagiaan tingkat kedua ini berlangsung lebih lama dibandingkan level pertama tadi (pleasure).

3. Higher Purpose
Ini adalah jenis kebahagiaan saat kita menjadi dan melakukan sesuatu yang “di luar diri kita”, menjadi bagian dari sesuatu yang “lebih besar” daripada diri kita, mengejar sesuatu yang lebih “bermakna”.

Riset menunjukkan inilah jenis kebahagiaan tertinggi yang “long lasting”.

Sebagai orang bisnis, tentu kita selalu mengejar yang namanya profit. Yang menarik, Tony Hsieh justru menyamakan profit itu dengan pleasure, jenis kebahagiaan di level paling bawah.

Kalau dipikir-pikir, betul juga ya. Kriteria pleasure sifatnya cepat “menguap” dan selalu membuat kita ingin lebih dan lebih lagi. Kalau kita selalu berpatokan kepada profit, memang begitu rasanya. Kita ingin selalu lebih dan lebih. Tidak pernah puas.

Kita selalu senang luar biasa begitu mencapai profit tertentu, tapi tidak berlangsung lama, karena setelah itu kita mentargetkan profit lebih besar lagi. Begitu terus menerus.

Maka dari itu, buatlah bisnis kita atau komunitas kita sebagai kendaraan untuk mencapai sesuatu yang lebih tinggi daripada kesenangan (baca: profit) saja.

Hidup kita, bisnis kita, komunitas kita harus kita bawa untuk meraih “higher purpose” itu, jangan hanya sebagai sarana mencari kesenangan belaka.

Filed under: Uncategorized

"semua anak SMK tanpa memandang jurusan harus bisa berjualan", kata bang jay

ini masih seputar bisnis onlen yang katanya murah, masalah pajak yang bakal dikenakan kepada pedagang “kaya” mending nanti aja ngomongnya.

Banyak yang bilang bisnis onlen itu murah, efisien, efektif dan menghemat waktu. Jawabannya…. BETUL dan saya sendiri memanfaatkan fasilitas onlen untuk membikin gendut celengan ayam jago saya.

Tetapi harus diingat, agar kita bisa berbisnis onlen ternyata sangat banyak yang harus disiapkan dan TIDAK MURAH, contoh,

  1. Komputer dan jaringan internet. Kalau gak ada sewa aja di warnet dengan biaya minimal 6,000 untuk 2 jam atau beli komputer yang lengkap dengan modemnya
  2. Telepon yang bisa terima email. Sangat aneh kalau kita sudah berbisnis onlen tetapi ternyata untuk menerima email aja kita tidak bisa realtime

Menurut hitungan saya dibutuhkan sekitar 3-4 jutaan agar kita bisa berbisnis onlen dan itupun masih harus menggunakan website gratisan, belum yang berbayar.

wajah-wajah penuh semangat untuk menyongsong masa depan yang lebih baik dari hari ini - SMK Karya Mandiri

Sekarang kita lihat sekeliling, berapa banyak orang yang harus berjuang hanya agar bisa makan hari ini tanpa memperdulikan hari esok mau makan apa.

Di sekitar tempat saya, di Bekasi, sangat mudah menemukan yang seperti itu, sangat-sangat banyak dan mereka semua adalah seorang pekerja keras. Lalu apakah cocok mereka dengan bisnis onlen.

Segeralah kita membantu mereka, kita bantu putra-putrinya agar bisa menyongsong masa depan yang lebih baik. Kesampingkan dulu bisnis di langit, ajarkan mereka tentang cara jualan yang baik dengan cara segera membuka warung sendiri.

biarpun namanya SMK tetapi yang seperti ini juga ada

Saya yakin, dengan 500,000/orang tidak akan membuat kita miskin dan sedikit bimbingan jualan selama beberapa bulan dari kita maka mereka sudah akan menjadi pebisnis tangguh masa depan dan sesudahnya baru kita bisa bicara soal bisnis onlen.

Salam sukses dunia akherat,