Target saya untuk liburan keluarga ke luar kota minimal 3 kali setahun akhirnya batal. Target hanya tercapai 2 kali.
Sebenarnya akhir tahun ini kami akan berlibur di kampung halaman di Bukittinggi, namun karena pekerjaan masih menumpuk, akhirnya rencana itu ditunda.
Lantas, apa yang bisa dilakukan untuk mengisi libur panjang anak-anak?
Terpaksa saya dan istri harus kreatif menyikapinya. Mengisi liburan anak sambil tetap bekerja.
Ternyata, banyak juga ide libur di dalam kota yang seru dan menarik buat anak-anak.
Contoh, minggu lalu saya mengajak Vito dan Vino ke Setu Babakan, kampung budaya Betawi di daerah Lenteng Agung sana.
Awalnya Vito merasa bete dengan lingkungan di situ yang tidak menarik baginya. Tapi itu hanya sementara, sebelum ia melihat abang-abang memasak kerak telor, membuat gulali, naik perahu angsa dan menikmati es potong.
Alhasil, ketika saya tanya, “Vito suka ke PIM atau Setu Babakan?”, dijawabnya “Dua-duanya!”
Untuk menikmati semua itu di sana, harganya sangat-sangat murah dibandingkan tempat wisata modern lainnya. Bayangkan, kami sekeluarga makan soto mie, toge goreng, lengkap dengan minuman bir pletok dan snacknya cuma kena Rp. 70 ribu saja!
Soal value, soal rasa bahagia yang kami rasakan, itu relatif. Kami merasa sangat senang di sana. Dapat pengalaman baru. Rasa senang, rasa bahagia itu ternyata tidak terkait dengan mahalnya harga.
Setiap hari, di sela-sela kerja, saya dan istri berpikir mau mengajak mereka ke mana lagi, biar mereka nggak bosan. Selain Setu Babakan, kami juga sempat mengunjungi Kampung Daun di Bandung, Kandank Jurank Doank di Ciputat. Semuanya seru!
“Hari ini mau ke mana Papa?”, tanya Vito.
“Papa belum tahu, pokoknya mandi aja dulu”, jawab saya sambil berpikir tempat yang akan dikunjungi di dalam kota selain mall.
Kalau kita kreatif, banyak tempat-tempat wisata menarik di sekitar kita. Esensi wisata itu sebenarnya bukan soal jarak yang jauh, tapi sejauh mana kita menikmatinya dengan orang-orang yang dicintai, sepenuhnya larut di sana, mengapresiasi apa yang ada di sana, belajar dari sana.
Ada sebuah konsep menarik dari teman saya, Mas Endro Catur, seorang traveler dan penulis wisata, yaitu “responsible traveller” dan “wisata selemparan batu”.
Responsible traveling adalah konsep wisata yang menyelaraskan diri dengan alam, lingkungan dan sosial dengan menjaga kebersihan, tidak merusak lingkungan, tidak meninggalkan jejak karbon (misalnya bersepeda atau jalan kaki ketimbang naik mobil, pesawat), mengapresiasi budaya lokal, mengangkat potensi lokal dengan membeli hasil karya penduduk lokal dan tinggal di rumah penduduk.
Wisata selemparan batu adalah menguak potensi-potensi wisata di sekitar tempat tinggal kita. Kalau kita kreatif, banyak sekali “temuan menarik” di dapat. Misalnya, ke museum, warung-warung tua di Glodok, sentra kerajinan rakyat, masjid tua, komunitas-komunitas kecil seperti di Tugu, pasar-pasar tradisional bersejarah, galeri/pameran seni, stasiun tua, pelabuhan, perpustakaan, taman kota, dan sebagainya.
Be creative! Enjoy more with less.
Selamat berliburan…
Filed under: Life
![]()
Target saya untuk liburan keluarga ke luar kota minimal 3 kali setahun akhirnya batal. Target hanya tercapai 2 kali.
Sebenarnya akhir tahun ini kami akan berlibur di kampung halaman di Bukittinggi, namun karena pekerjaan masih menumpuk, akhirnya rencana itu ditunda.
Lantas, apa yang bisa dilakukan untuk mengisi libur panjang anak-anak?
Terpaksa saya dan istri harus kreatif menyikapinya. Mengisi liburan anak sambil tetap bekerja.
Ternyata, banyak juga ide libur di dalam kota yang seru dan menarik buat anak-anak.
Contoh, minggu lalu saya mengajak Vito dan Vino ke Setu Babakan, kampung budaya Betawi di daerah Lenteng Agung sana.
Awalnya Vito merasa bete dengan lingkungan di situ yang tidak menarik baginya. Tapi itu hanya sementara, sebelum ia melihat abang-abang memasak kerak telor, membuat gulali, naik perahu angsa dan menikmati es potong.
Alhasil, ketika saya tanya, “Vito suka ke PIM atau Setu Babakan?”, dijawabnya “Dua-duanya!”
Untuk menikmati semua itu di sana, harganya sangat-sangat murah dibandingkan tempat wisata modern lainnya. Bayangkan, kami sekeluarga makan soto mie, toge goreng, lengkap dengan minuman bir pletok dan snacknya cuma kena Rp. 70 ribu saja!
Soal value, soal rasa bahagia yang kami rasakan, itu relatif. Kami merasa sangat senang di sana. Dapat pengalaman baru. Rasa senang, rasa bahagia itu ternyata tidak terkait dengan mahalnya harga.
Setiap hari, di sela-sela kerja, saya dan istri berpikir mau mengajak mereka ke mana lagi, biar mereka nggak bosan. Selain Setu Babakan, kami juga sempat mengunjungi Kampung Daun di Bandung, Kandank Jurank Doank di Ciputat. Semuanya seru!
“Hari ini mau ke mana Papa?”, tanya Vito.
“Papa belum tahu, pokoknya mandi aja dulu”, jawab saya sambil berpikir tempat yang akan dikunjungi di dalam kota selain mall.
Kalau kita kreatif, banyak tempat-tempat wisata menarik di sekitar kita. Esensi wisata itu sebenarnya bukan soal jarak yang jauh, tapi sejauh mana kita menikmatinya dengan orang-orang yang dicintai, sepenuhnya larut di sana, mengapresiasi apa yang ada di sana, belajar dari sana.
Ada sebuah konsep menarik dari teman saya, Mas Endro Catur, seorang traveler dan penulis wisata, yaitu “responsible traveller” dan “wisata selemparan batu”.
Responsible traveling adalah konsep wisata yang menyelaraskan diri dengan alam, lingkungan dan sosial dengan menjaga kebersihan, tidak merusak lingkungan, tidak meninggalkan jejak karbon (misalnya bersepeda atau jalan kaki ketimbang naik mobil, pesawat), mengapresiasi budaya lokal, mengangkat potensi lokal dengan membeli hasil karya penduduk lokal dan tinggal di rumah penduduk.
Wisata selemparan batu adalah menguak potensi-potensi wisata di sekitar tempat tinggal kita. Kalau kita kreatif, banyak sekali “temuan menarik” di dapat. Misalnya, ke museum, warung-warung tua di Glodok, sentra kerajinan rakyat, masjid tua, komunitas-komunitas kecil seperti di Tugu, pasar-pasar tradisional bersejarah, galeri/pameran seni, stasiun tua, pelabuhan, perpustakaan, taman kota, dan sebagainya.
Be creative! Enjoy more with less.
Selamat berliburan…
Filed under: Life
![]()
Ada sebuah penelitian yang menguji hubungan merek jam yang dipakai dengan tingkat kebahagiaan.
Jam yang dipilih adalah Rolex (mewakili merek termahal), Seiko (merek medium level) dan Timex (merek murah).
Hasilnya, tidak ada perbedaan mencolok dari semua pemilik merek itu. Level bahagianya relatif sama.
Jadi, pakai merek mahal atau murah itu tidak ada kaitannya dengan tinggi rendahnya tingkat kebahagiaan seseorang.
Lantas, kenapa pakai merek mahal?
Filed under: Life
![]()
Ada sebuah penelitian yang menguji hubungan merek jam yang dipakai dengan tingkat kebahagiaan.
Jam yang dipilih adalah Rolex (mewakili merek termahal), Seiko (merek medium level) dan Timex (merek murah).
Hasilnya, tidak ada perbedaan mencolok dari semua pemilik merek itu. Level bahagianya relatif sama.
Jadi, pakai merek mahal atau murah itu tidak ada kaitannya dengan tinggi rendahnya tingkat kebahagiaan seseorang.
Lantas, kenapa pakai merek mahal?
Filed under: Life
![]()
Google kita tahu, kini telah menjadi salah satu dewa dalam bisnis digital masa depan. Google telah menjelma menjadi perusahaan raksasa dengan kinerja bisnis yang selalu prima. Apa yang membuat mereka bisa begitu? Salah satu jawabannya : manajemen Google sangat gigih memberikan layanan fasilitas yang sungguh mak nyus kepada segenap karyawannya.
Ketekunan manajemen Google dalam membentangkan a wonderful workplace memang telah menjadi legenda. Beragam layanan fasilitas yang wow di hadirkan untuk membikin para karyawannya betah dan happy.
Tentu saja kita tidak harus men-copy semua kebijakan layanan karyawan a la Google. Namun dari pengalaman mereka dalam memberikan beragam layanan fasilitas kepada para karyawannya, ada sejumlah inspirasi yang mungkin bisa dipetik.
Berangkat dari pengalaman di Google, berikut tiga jenis layanan karyawan yang mungkin bisa kita mulai gagas dan wujudkan di sejumlah perusahaan besar dan menengah di tanah air. (more…)
Dalam sebuah sesi workshop dengan Pak Heppy Trenggono, para peserta dibagikan 40 buah kartu yang bertuliskan kata-kata tertentu.
Di antaranya: love, peace, god, family, fun, travelling, contribution, integrity, hobby, kejujuran, olah raga, wisdom, respect dan sebagainya.
Kemudian kami disuruh memilih 20 kartu yang kami sukai.
Cukup mudah buat saya untuk melakukannya.
Setelah selesai, kami diminta memilih 10 kartu yang disukai di antara yang 20 itu.
Pilihan mulai berat. Tapi masih lancar.
Setelah dapat 10 kartu, disuruh lagi memilih 5 yang paling disukai.
Inilah tahap yang paling berat. Ke sepuluh kartu itu saya sukai. Tapi saya harus memilih.
Akhirnya terpilihlah 5 kartu hasil “perjuangan” memilih yang berat.
Kemudian kami diminta menuliskan kata-kata di kelima kartu itu dan menjadikannya sebagai “janji” yang harus dipenuhi dalam hidup.
Kelima hal itu harus menjadi prioritas hidup kami.
Permainan ringan yang sangat berat konsekuensinya.
Coba deh. Anda pasti menemukan “sesuatu”.
Filed under: Life
![]()
Dua minggu lagi, tahun 2011 ini segera akan berakhir. Bagaimana kira-kira pencapaian target profit dan penjualan yang telah ditetapkan oleh kantor Anda? Jawaban atas pertanyaan ini penting, sebab biasanya akan amat menentukan jawaban pertanyaan berikutnya : jadi, berapa kira-kira bonus akhir tahun yang akan sampeyan terima?
Bonus. Ah, sebuah kata yang pendek namun amat dinanti oleh para pekerja yang selama 12 bulan penuh telah berjibaku, memberikan karya terbaik untuk perusahaan. Setelah keringat dicucurkan dan segenap energi dibentangkan, wajar dong jika pihak manajemen memberikan imbalan balik yang layak berupa bonus yang gede.
Sejatinya, bonus memang merupakan salah satu siasat keren untuk mempertahankan talenta-talenta terbaik. Bonus juga salah satu mekanisme untuk melakukan profit sharing yang telah diraih oleh perusahaan. Bonus adalah kata sakti yang akan membuat kalimat “our best asset is our great employee” menemukan arti yang paling sesungguhnya (dan bukan sekedar lips service belaka).
Di pagi bulan Desember yang ceria ini, mari kita sejenak menghitung-hitung berapa bonus yang layak Anda terima. (more…)
Tiap pagi, kita menyaksikan ribuan atau mungkin jutaan orang bergegas, pergi berangkat ke kantor. Ada yang naik mobil Honda Jazz, ada yang naik sepeda motor Supra X, ada yang naik angkot butut, dan ada pula yang melenggang dengan sepeda Polygon. Di setiap saku mereka pasti sudah tersimpan handphone (ada yang pake BB ada pula yang pake Nexian murahan). Tiap pagi jutaan orang ini – dan Anda mungkin termasuk didalamnya – berangkat untuk bekerja, menggerakkan roda ekonomi bangsa.
Jutaan orang itu adalah potret middle class di Indonesia. Dan hari-hari ini, kita tengah menyaksikan kebangkitan raksasa jumlah kaum kelas menengah di tanah air. Tahun depan diprediksi jumlah kelas menengah di Indonesia akan berjumlah 100 juta orang, naik dua kali lipat dibanding sepuluh tahun silam.
Tak pelak, pertumbuhan jumlah kelas menengah yang sedemikian masif itu akan memberikan impak dramatis bagi masa depan negeri ini. Gelombang kemakmuran dalam skala raksasa mungkin tengah menunggu untuk dipentaskan. Dan kita – saya dan Anda semua – mestinya tidak hanya termangu menjadi penonton belaka. (more…)
Malam terasa begitu megah. Ribuan pendaran cahaya tampak begitu gemerlap menerangi langit. Di salah satu sudut bangunan tertinggi di Orchard Road, Singapore, tampak berdiri perempuan muda nan cantik asal Jakarta bernama Merry Riana.
Sambil menyaksikan pemandangan malam hari yang begitu indah, pandangannya menerawang jauh. Air matanya terlihat mulai menetes. Malam itu, di usianya yang baru menginjak 26 tahun, ia telah berhasil merengkuh impiannya menembus financial freedom : di-usia yang sangat muda itu, ia telah berhasil memperoleh penghasilan 1 juta dollar. Media terkemuka di Singapore menobatkannya sebagai the young female millionaire.
Padahal, beberapa tahun sebelumnya, perempuan yang besar di Pulomas, Jakarta itu harus setiap hari sarapan indomie rebus lantaran kekurangan biaya kuliah. Padahal beberapa tahun sebelumnya, ia terpaksa bekerja sebagai pelayan di hotel dan penjaga toko bunga untuk membiayai hidupnya.
Kisah tentang Merry Riana adalah kisah tentang impian besar, tentang keteguhan hati, dan tentang doa sepanjang hari yang terus dilantunkan. (more…)
Berapa income yang mestinya kita peroleh agar bisa melakoni hidup dengan penuh rasa tentram, gemah ripah loh jinawi? Perhitungan yang pernah saya tuliskan disini, membawa kita pada angka 16 juta rupiah per bulan. Wah lumayan tinggi juga ya.
Benar, angka itu jauh lebih tinggi dibanding UMR kota Jakarta yang hanya 1,5 juta per bulan. Mengapa segitu tinggi? Pan katanya mau hidup lumayan tentram?
Eniwei, hidup di kota-kota besar rasanya memang kian mahal. Harga rumah sepetak di pinggiran kota Bekasi sudah mencapai 250 juta rupiah. Hanya dengan mendapatkan segenggam nafkah yang memadai, kita mungkin baru bisa membangun biduk rumah tangga yang sejahtera.
Dan persis disitulah, kita dikenalkan dengan 3 kredo atau prinsip utama perencanaan keuangan yang mak nyus. Tiga kredo magis itu berbunyi : Earn more. Spend less. And Give More. Mari kita menghampirinya satu per satu. (more…)